Malam Ketika Baterai Mobilku Habis
Rabu pagi, 23 September, sekitar jam 8 kurang. Aku udah siap nganter anak ke sekolah, masuk mobil, dan baterainya 0%. Ternyata semalam aku lupa matiin mobil.
Jujur sempat panik, soalnya belum pernah ngalamin. Untungnya mobil masih bisa jalan pelan, jadi aku bawa ke charger terdekat yang jaraknya sekitar 100 meter. Ngecas kurang lebih sejam, baru berangkat ke sekolah. Ya telat.
Mobilku BYD Atto 1 tipe Dynamic, kapasitas baterainya 30,08 kWh. Jadi 1% baterai itu kira-kira 0,3 kWh.
Setelah itu aku penasaran, sebenarnya seberapa boros sih mobil yang lupa dimatiin? Kebetulan aku punya log data mobilku sendiri selama kurang lebih 9 bulan, dari Desember 2025 sampai Oktober 2026: persentase baterai, suhu, odometer, kapan mobil jalan dan kapan di-charge, kecatat kira-kira tiap menit. Jadi sekalian aku lihat-lihat datanya, dan ternyata ada beberapa hal yang menarik.
Mobilnya jarang dipakai jauh
Total jarak selama 9 bulan cuma 5.220 km (odometer dari 770 km ke 5.990 km). Rata-rata sekitar 29 km di hari mobilnya dipakai. Paling jauh 228 km sehari, tanggal 8 Mei.
Jadi baterai habis kemarin bukan karena mobilnya dipakai jauh.
Baterainya biasanya di tengah-tengah
Rata-rata baterai ada di 59%. Jarang sampai 100%, jarang juga di bawah 20%. Di bawah 10% cuma kejadian di tiga hari, dan sebagian besar datanya (423 dari 476) dari malam itu. Sampai 0% cuma sekali.
Malam itu aku parkir dengan baterai sekitar 15,6%. Kupikir masih cukup buat besok pagi, dan sebenarnya memang cukup kalau mobilnya dimatiin.
Pola harian dan mingguan
Kalau dilihat per jam, mobil paling sering jalan sekitar jam 8 pagi dan jam 7 malam, jam berangkat dan pulang. Jam 1 sampai 5 pagi hampir gak pernah jalan.
Per hari, Senin sampai Kamis mirip, Jumat lebih jarang dipakai. Charging-nya kebanyakan di akhir pekan: 37 dari 49 kali charge (76%) itu Jumat sampai Minggu, biasanya cuma nambah sekitar 19% (kurang lebih 5,7 kWh).
Kejadiannya Selasa malam, jadi memang belum waktunya charge rutin.
Mobil mati vs mobil nyala
Ini bagian yang paling bikin aku sadar. Kalau mobil dimatiin dengan bener, baterainya cuma turun sekitar 0,5% per jam, atau sekitar 0,15 kWh (dari beberapa malam yang sempat kecatat). Malam itu mobilnya nyala terus, dan turunnya sekitar 1,7% per jam, atau sekitar 0,5 kWh per jam. Lebih dari tiga kali lipat.
Malam itu
Mobil diparkir sekitar jam 21:30 di 15,6%, terus baterainya turun stabil sepanjang malam sampai 0% jam 06:48. Totalnya sekitar 4,7 kWh habis cuma buat mobil yang diem di parkiran. Jadi pas aku ke mobil, baterainya udah habis kurang lebih sejam.
Di data kelihatan mobilnya jalan lagi jam 07:44, itu waktu aku bawa ke charger, terus mulai ngecas sekitar 07:50. Ternyata walaupun dashboard nunjukin 0%, mobil listrik masih punya sedikit cadangan buat jalan pelan, dan itu yang bikin aku masih bisa sampai ke charger. Sekitar jam 9 baterai udah 90%, artinya masuk sekitar 27 kWh dalam kurang lebih 70 menit (rata-rata sekitar 23 kW, masih masuk akal buat charger DC 30 kW). Jam 09:09 kami akhirnya berangkat.
Bonus: suhu dan kesehatan baterai
Ini gak ada hubungannya sama kejadian tadi, tapi menarik. Suhu baterai rata-rata naik dari sekitar 29°C di Desember–Januari ke 34°C di Agustus. Angka state of health juga sempat turun dari 100% ke 99% di Juni sampai Agustus, lalu balik lagi ke 100% di September.
Karena turunnya barengan sama bulan-bulan paling panas, kemungkinan itu cuma kalibrasi dari sistem baterainya, bukan baterainya beneran rusak.
Kesimpulan
Selama 9 bulan baterai cuma pernah habis sekali, dan penyebabnya ya karena aku lupa matiin mobil waktu baterainya udah tinggal 15%. Pelajaran buat aku: cek lagi sebelum ninggalin mobil, dan kalau baterai udah di bawah 20%, mending di-charge dulu.
Catatan: semua angka di atas dari log mobilku sendiri, dianalisis offline. Gak ada data GPS, jadi gak ada info lokasi sama sekali. Datanya berupa snapshot kira-kira per menit, cukup buat lihat pola dan kebiasaan, tapi bukan buat analisis detik-per-detik.